Musyawarah dalam islam

08:49:51, 24 September 2019 Annisa Azzahra

Ada pepatah arab yang mengatakan لكل رأس رأي “Setiap kepala memiliki pendapat”. Artinya setiap manusia memiliki sudut pandang berbeda dalam melihat permasalahan atau menggapai tujuan tertentu. Kadang perbedaan sudut pandang inilah yang membuat ketidakharmonisan terjadi antar manusia atau kelompok. 

 

Maka dari itu Islam sebagai jalan hidup seorang muslim, memberikan tuntunan untuk bermusyawarah dalam banyak menyelesaikan permasalahan dan menggapai tujuan. Musyawarah tidak hanya dianjurkan pada umat Islam, bahkan secara tegas memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengajak para sahabat untuk bermusyawarah dalam banyak hal. Allah SWT berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”, (Q.S. Ali Imran/3: 159).

 

Oleh karena itu, kita akan dapati banyak sekali contoh musyawarah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan para sahabat. Sebut saja pengaturan strategi perang dalam perang Khandaq, di mana umat Islam saat itu mengetahui betul bahwa mereka akan diserang oleh orang-orang kafir Quraisy dan sekutunya dengan jumlah yang sangat banyak. Pada keadaan ini Rasulullah Saw. mengumpulkan para sahabat dan memusyawarahkan strategi yang jitu untuk menghalau serangan ini. Banyak sahabat mulai mengemukakan pendapatnya, salah satunya adalah Salman Al Farisi, seseorang ajami (bukan Arab) menawarkan kepada Rasulullah satu strategi perang bertahan yang efektif, yaitu dengan membuat parit di sekeliling kota Madinah hingga tidak bisa dilewati oleh kuda-kuda pasukan kafir Quraisy. Yang pada akhirnya pendapat inilah yang disepakati oleh Rasulullah Saw. dan sahabat lainnya. 

Contoh lainnya adalah piagam Madinah, di mana Rasulullah mengumpulkan seluruh elemen warga Madinah, yang terdiri dari umat Islam, Yahudi dan lainnya, untuk menghasilkan poin-poin kesepakatan untuk kemaslahatan warga Madinah pada umumnya. Dari sini kita melihat bahwa Islam agama yang memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya demi memperoleh kesepakatan yang baik untuk kemaslahatan umat.

 

Nilai-nilai inilah yang pada pekan ini diajarkan pada kelas 12. Yaitu nilai-nilai menerima pendapat orang lain, tidak egois dengan memaksakan pendapat sendiri pada orang lain, dan juga legowo melaksanakan hasil yang sudah disepakati bersama. Kegiatan pembelajaran materi ini diawali dengan mencari ayat, hadis, sejarah dan perkataan para ulama, yang terkait dengan musyawarah. Kemudian menganalisanya, sehingga melahirkan poin-poin apa saja yang harus diperhatikan dalam bermusyawarah. Berikut hal-hal yang diperhatikan dalam bermusyawarah menurut sudut pandang Islam:

  1.        Peserta musyawarah harus memiliki niatan yang  ikhlas karena Allah dalam bermusyawarah, karna adanya musyawarah untuk kemaslahatan bersama bukan individu.
  2.        Peserta musyawarah haruslah orang yang memiliki kapasitas dalam hal yang dimusyarahkan.
  3.        Mengemukakan pendapat dengan tutur kata yang baik.
  4.        Tidak diperkenankan memusyawarahkan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, memusyarawahkan hal-hal yang sudah jelas diwajibkan oleh Allah, seperti salat lima waktu. Atau sebaliknya, memusyawarahkan hal-hal yang sudah diharamkan oleh Allah, seperti minum khamer dan lainnya.
  5.        Melaksanakan hasil yang disepakati.

Demikian sekelumit tentang pembelajaran kelas 12 kali ini. Kita berharap semoga melalui pembelajaran ini, siswa-siswi Madania, kelas 12 pada khususnya, bisa menghadirkan nilai-nilai musyawarah ini dalam dalam aktifitasnya, baik sekarang atau pun di masa mendatang saat mereka menjadi para pemimpin di negeri ini, amin. (Ahmad Nurhidayat, Lc.)


Share :