Spirit of Educator

12:03:17, 16 Januari 2019 Muhamad Chori Zikrin

Ketika content mastery dan teaching methodology yang merupakan syarat dasar menjadi guru profesional sudah terlampaui. ketika guru yang profesional tersebut memiliki identitas dan integritas sebagai seorang pendidik yang akhirnya bisa dikategorikan sebagai guru berkarakter juga sudah terlampaui. Masih adakah kategori guru yang bisa melampaui tingkatan guru profesional dan guru berkarakter? Apakah kita pernah berjumpa dengan guru yang “bisa” seperti itu dalam hidup kita? 

School Director Sekolah Madania, Bapak M. Wahyuni Nafis selaku pemateri mengisahkan cerita turun-temurun mengenai tingkah laku para murid yang ketika mendengar nama Sang Guru disebut mereka sontak langsung mendoakan namanya. Guru yang ketika para murid melewati sepedanya yang sedang diparkir di kebun meski orangnya entah di mana-, entah mengapa bisa membuat mereka otomatis memelankan langkah dan membungkuk hormat hingga sepeda itu tak terlihat lagi. Guru resourceful yang sangat menguasai bidangnya, hafal seluk-beluk setiap halaman ilmu yang akan diajarkannya (profesional). Guru yang penuh kebaikan dan kebijaksanaan dalam memperlakukan murid-muridnya, ketika berdiskusi tidak akan menyalahkan dan menjadi inspirasi para muridnya (berkarakter). Guru yang berkharisma bisa terwakili dengan hadirnya sebuah peci di atas meja, yang tanpa CCTV pun semua murid merasa terawasi. 

Rangkaian hikmah para Ruhul Muddaris pun mengalir, kisah spiritual yang seringkali tidak bisa dimengerti atau pun dipahami, tetapi menarik untuk disimak dan didiskusikan serta direfleksikan dalam kehidupan kita, tentang guru yang hadir dengan ruh dan hatinya.

Perjalanan dilanjutkan dengan pemaparan mengenai attarbiyah dan atta’lim (pendidikan dan pengajaran). Sebagai pendidik kita sudah memahami bahwa dalam pendidikan dan pengajaran metode mengajar dan materi ajar adalah hal penting yang harus disiapkan oleh seorang guru sebelum pergi ke medan perang (baca: mengajar). 

Pak Nafis memberikan insight bahwa pada praktiknya yang akhirnya terjadi di lapangan adalah atthoriqotu ahammu minal maddah (metode mengajar menjadi lebih penting daripada materi ajar), karena ketika “materi biasa” diberikan dengan cara/metode yang tidak biasa maka efek materi tersebut akan tinggal di memori peserta didik jauh lebih lama. 

Bagaimana bila hal tersebut sudah terlampaui? Maka tingkatan berikutnya adalah al mudarrisu ahamu minal thoriqoh (guru menjadi jauh lebih penting dari cara/metode). Dapat dipahami bahwa “metode mengajar yang biasa saja” bisa terkoreksi ketika pemateri adalah guru yang beridentitas dan menguasai materi dengan baik (profesional dan berkarakter). 

Bila tingkatan itu pun telah terlampaui, maka tingkatan berikutnya adalah ruhul muddaris ahamu minal muddaris (guru yang memiliki ruh mengajar jauh lebih penting dari guru). Ruhul Muddaris atau guru yang memiliki spirit/ruh adalah adalah guru profesional dan berkarakter yang mengabdikan jiwa dan hatinya kepada Allah/Tuhan dengan cara mengembangkan dan membantu menumbuhkan potensi internal setiap peserta didik.

Ada pengabdian di situ, yang menjadi pembeda antara guru professional, guru berkarakter, dan ruhul muddaris. Ada jiwa dan hati yang hadir disitu, yang membuat majelis ilmu/kelas diberikan keberkahan dan dihadiri oleh juga oleh para makhluk Allah yang menyenangi majelis ilmu dan ikut mengaminkan setiap doa.

Demikianlah pembuka sesi mengenai spirit of educators di mana para peserta enlightment dibawa serta untuk menapaki perjalanan spiritual, menghadirkan diri sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai seorang manusia. Saya disadarkan kembali mengenai makna eksistensi saya di muka bumi ini. Bahwa setiap tindakan yang saya lakukan, akan mempengaruhi alam semesta. Pijakan itu mengantarkan kesadaran bahwa spiritualitas adalah bagaimana kita menyadari makna eksistensi setiap kita, tempat hidup kita, dan hubungan kita dengan alam semesta.

Pertanyaan berikutnya adalah, apa hubungan nya antara spritualitas dengan agama? Apakah hubungan mereka baik-baik saja? Apakah mereka mendukung satu sama lain? Ataukah mereka berjalan sendiri sendiri? Di sini Pak Nafis membuat bagan yang menjelaskan apa perbedaan antara spiritualitas dengan agama.

Saya menyerap wawasan baru bahwa agama dapat sangat membantu seseorang untuk menjadi “jembatan” agar seseorang bisa menjadi spiritual. Dari banyak buku yang disarikan oleh Pak Nafis, yang di antaranya juga terinspirasi dari “7 Habits for Highly Effective People” sebuah gagasan dari Stephen Covey, Pak Nafis mensintesis langkah menuju spiritualitas kedalam sembilan jalan spiritual.

Sembilan jalan spiritual ini dimulai dari fase ketergantungan (sabar, syukur, dan tawaddu). Pada saat seseorang telah melewati fase ini, ia telah melampaui fase kemenangan pribadi karena ia telah menyelesaikan masalah antara dia dengan dirinya. Fase kedua adalah fase kemandirian (husnuzan, amanah, dan silaturahmi). Ketika seseorang telah melewati fase ini, ia telah melampaui fase kemenangan sosial karena ia telah menyelesaikan masalah antara dia dengan orang lain. Fase ketiga adalah fase kesalingtergantungan (tawakal, ikhlas, dan takwa). Ketika seseorang telah berada di fase ini, ia tengah menuju fase kemenangan spiritual, karena ia telah menyelesaikan masalah antara dia dengan Tuhannya.

(Nida Nidiana Tolibin)


Share :