Seminar Hulu Migas: Begini Kondisi Migas Indonesia

18:47:39, 27 Maret 2019 Fajar Yulianur

Madania Public Relations, (27/03/2018) - Minyak dan gas bumi sempat menjadi komoditas ekspor utama dan penyumbang penerimaan negara hingga 65% di tahun 1970 – 1990. Namun tren migas saat ini membuat kita patut cemas. Pasalnya, sejak tahun 2004 Indonesia menjadi net importer minyak seiring dengan tingkat kebutuhan minyak dalam negeri yang terus melejit melampaui angka produksi.

Hal ini diungkap oleh Rudy Hartono, Spesialis Dukungan Bisnis SKK Migas dalam Seminar Hulu Migas Sekolah Madania pada selasa (26/03) lalu yang berlangsung di Aula Serbaguna Sekolah Madania Bogor. Ia menyampaikan bahwa kebutuhan minyak saat ini mencapai 1,5 juta barel per hari (bph) dengan tingkat produksi yang hanya memenuhi 750 ribu bph.

“Rendahnya produksi minyak Indonesia karena sebagian besar produksi kita berasal dari sumur tua yang usianya sudah mencapai 10 – 15 tahun, bahkan ada yang lebih tua,” tuturnya di hadapan sedikitnya 750 pelajar SLTA se-Jabodetabek, pendidik, dan tenaga kependidikan Sekolah Madania.

Menurutnya, sumur minyak yang sudah uzur tersebut tidak dapat dieksploitasi lebih tinggi karena faktor keamanan yang sangat berisiko. Ditambah, kandungan minyak sumur-sumur tersebut tinggal 10% dengan 90%-nya adalah air.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) saat ini tengah giat melakukan proses eksplorasi, mencari sumur baru dengan cadangan minyak yang memungkinkan untuk diproduksi. Namun hal yang masih menjadi tantangan besar adalah biaya eksplorasi yang tidak kecil.

“Saat ini SKK Migas sedang mencari ladang minyak baru, tapi sebagian besar wilayah eksplorasi berada di laut dalam. Kita setidaknya butuh 50 – 100 juta USD untuk sekali penggalian dan itu belum tentu ada minyaknya. Bisa sampai  4 – 6 kali penggalian baru dapat minyak,” ungkap Rudy.

Sementara itu, berdasarkan data realisasi capaian sektor hulu migas yang dipublikasikan oleh SKK Migas, produksi gas Indonesia pada 2011 sebesar 7.380 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), per 2016 angkanya telah merosot jadi 6.630 MMSCFD. Di sisi lain, konsumsi setiap tahunnya mengalami peningkatan dan mencapai 3.850 MMSCFD pada 2016 lalu.

Berkaca pada kondisi tersebut, Rudy menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan investasi di sektor hulu migas yang besar untuk meningkatkan produksi. Sayangnya mendapatkan investor migas juga tidak mudah. Sampai kuartal III 2018, investasi migas baru tercapai 56% dari target 2018 yang sebesar 14,2 miliar USD.  

Bila kondisi ini terus berlangsung dengan angka produksi yang bahkan cenderung menurun, tidak menutup kemungkinan beberapa tahun mendatang Indonesia akan mengalami krisis energi yang lebih buruk.

Menyikapi hal tersebut, SKK Migas tengah mengambil beberapa langkah upaya, yakni penahanan laju penurunan alami sebesar 10%, peningkatan cadangan migas, dan perbaikan tata kelola internal dan eksternal dengan menerapkan good governance dan menyederhanakan birokrasi perizinan.

Di akhir kegiatan, Rudy menyampaikan bahwa SKK Migas menaruh harapan banyak pada generasi penerus bangsa. “Segala aktifitas industri hulu migas mengandung risiko yang tinggi, dan biaya yang besar. Kami sangat membutuhkan anak bangsa dengan tingkat profesionalitas tinggi,” imbuhnya.

Ia juga berpesan kepada para pelajar yang ingin menggeluti bidang migas ini untuk bekerja dan belajar dengan giat. Harapannya agar mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan hulu migas, sehingga dapat menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan hulu migas.

Selaras dengan ini, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, pembina dan pendiri Yayasan Pendidikan Madania Indonesia yang juga sebagai pembicara pada seminar tersebut turut menegaskan bahwa industri hulu migas membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya sekadar cerdas dan kompeten, namun juga memiliki akhlak dan karakter yang mulia agar ketika melaksanakan tugasnya benar-benar berorientasi pada kesejahteraan seluruh umat. 

 

 

Public Relations Office

Sekolah Madania

Perum Telaga Kahuripan, Kemang

Bogor 16330, Jawa Barat, Indonesia

Telp: +62-251-8602777 ekt 107; Fax: +62-251-8604777


Share :