KRISIS MULTI DIMENSI DAN MUNCULNYA REFORMASI

09:12:58, 12 September 2017 Himawari

MadNews Edisi 6/VIII/2017-2018 - (Grade 12) Guna mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi sehingga dapat bersaing dengan dunia internasional, pemerintah Orde Baru mencanangkan program Pembangunan Jangka Panjang (PJP).  Program ini dibagi menjadi beberapa termin lima tahunan yang disebut PELITA (Pembangunan Lima Tahun). Program ini dapat berjalan dengan baik. Hingga puncaknya pada tahun 1984 Indonesia berhasil berswasembada beras.

Namun dalam kurun waktu 1997-1998 Indonesia dilanda krisis multidimensi yang berpengaruh besar terhadap kehidupan ekonomi, politik, dan sosial bangsa Indonesia. Krisis ini merupakan efek domino dari krisis ekonomi Asia yang melanda berbagai negara seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia. Lemahnya fundamental ekonomi menyebabkan Indonesia mengalami kesulitan dalam menata ulang perekonomiannya untuk keluar dari krisis.

Tema di atas menjadi bahasan yang menarik bagi siswa kelas 12. Mereka membuat time line sejarah peralihan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Mereka mendiskusikan dalam kelompok kecilnya dan menghasilnya Concept Map sebelum dipresentasikannya di depan kelas.

Menurut mereka turunnya Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sudah dimulai dari penandatangan perjanjian pemberian dana bantuan IMF pada medio 1997 untuk mengatasi krisis. Akibatnya hutang Indonesia semakin menumpuk. Dampak dari perjanjian ini adalah pengetatan kebijakan fiskal, penghapusan subsidi, penutupan sejumlah bank, dan naiknya suku bunga. Kenyataan ini mengakibatkan keterpurukan yang semakin dalam yang berujung pada berakhirnya era Orde Baru (Lengser Kaprabon, Mandhek Pandhito).

Akhirnya Indonesia memasuki era baru, Ode Reformasi. Naiknya Baharuddin Jusuf Habibie menjadi presiden merupakan sebuah momentum untuk memperbaiki kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang carut marut. Habibie dihadapkan pada tuntutan untuk menciptakan Indonesia baru yang bebas dari KKN dan merealisasikan semangat reformasi.

Siswa sangat antusias mendiskusikan babakan sejarah panjang Indonesia ini. Tema ini menjadi semakin menarik karena dampaknya masih terus berjalan. Selanjutnya mereka akan mencari nara sumber dari keluarga dekatnya untuk membandingkan kondisi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam pada masa orde Baru, Orde Reformasi (era Presiden Habibie, Presiden, Gusdur dan Megawati, Presiden SBY, hingga Presiden Jokowi).  (Zaenal Abidin)


Share :