Itihasa Ramayana

08:15:29, 10 November 2017 Himawari

MadNews Edisi 10/IX/2017-2018 - Belajar Agama Hindu di kelas 10 pada minggu ini membahas nilai-nilai Yadnya yang terkandung dalam Itihasa Ramayana, sekaligus review terhadap materi Ramayana.Ramayana adalah salah satu epos Hindu kuno yang telah mendunia dan mengakar di kebudayaan Indonesia dalam bentuk cerita wayang dan sastra-sastra lokal. Itihasa atau cerita nyata ini dibukukan oleh Mpu Walmiki sebagai sarana pendidikan generasi penerus.

          Bila dibandingkan dengan Mahabharata, itihasa Ramayana memang lebih sederhana, karena lebih memusatkan perhatian kepada konflik asmara antara Rahwana yang menculik Sinta dari tangan Rama, yang menunjukan bahwa konflik cinta dapat menyebabkan peperangan antara kerajaan Pancawati dan Goa Kiskendha (Rama dengan sekutunya) melawan Alengka (Rahwana dan bawahannya). Namun, di suatu cerita cinta ini, disertakan juga nilai-nilai luhur tentang Yadnya, nasionalisme, keberagaman, dan dharma.

          Salah satu contoh baik yang bisa kita ambil dari Ramayana adalah kesetiaan Kumbakarna. Ia adalah adik ke-2 dari Prabu Rahwana yang membela tanah airnya, Alengka. Berbeda dengan adiknya, Wibisana, Kumbakarna juga mengerti betul bahwa Rahwana berdosa telah menculik Sinta, tetapi Kumbakarna tetap membela kerajaannya, bukan kakaknya.

          Saat pasukan Alengka sudah sedikit dibandingkan dengan prajurit Rama, Kumbakarna diperintahkan untuk maju ke medan perang. Kumbakarna sebelum maju ke medan perang telah memuntahkan semua makanan yang diberi Rahwana sebagai wujud penghinaan terhadap kakaknya yang berani menistakan istri orang, tetapi sebagai wujud pemberian kepada tanah Alengka.

Di tengah medan peperangan, Kumbakarna dikepung oleh sekutu wanara (monyet) dari Goa Kiskendha, bahkan raja monyet Sugriwa mampu menggigit sampai lepas salah satu telinga Kumbakarna. Namun, karena Kumbakarna kebal, para wanara kalang kabut. Adik Rama, yakni Lakhmana bersiasat untuk menggunakan panah Naracabala, pemberian Resi Wiswamitra.

          Panah dilepaskan. Satu persatu, kedua lengan dan kaki Kumbakarna putus dengan tragis. Sampai akhirnya, hanya kepala Kumbakarna yang tersisa. Wibisana yang telah kabur ke sisi Rama, melihat kakaknya gugur langsung menangis. Oleh karena itu, Kumbakarna diberikan upacara penguburan layaknya pahlawan bangsa.

          Kumbakarna mengingatkan kita bahwa nasionalisme adalah hal penting, namun tidak bisa dijalankan dengan mata buta. Siapa pun pemerintahnya, kita harus lebih mengutamakan keselamatan rakyat dan keutuhan bangsa. (Gusti Ayu Kade Sutini)


Share :