Eksekutif Produser Film Keluarga Cemara Beberkan Rahasia Mudah Membuat Film

08:59:25, 30 Maret 2019 Fajar Yulianur

Madania Public Relations, (30/03/19) - Bagi para pecinta film bergenre drama keluarga, siapa yang tak kenal dengan film Keluarga Cemara. Beberapa bulan lalu film ini sempat meramaikan bioskop tanah air dengan jumlah penonton lebih dari 1 juta.

Kesuksesan film tersebut tidak lepas dari peran anak bangsa yang berbakat dan kompeten di bidang produksi film. Dia adalah Pandu Birantoro.

Di film yang dibintangi oleh Nirina Zubir dan Ringgo Agus Rahman tersebut, Pandu bekerja di belakang layar sebagai Eksekutif Produser.

Pada Selasa (26/03) lalu, ia hadir sebagai pembicara dalam Talkshow Film Sekolah Madania yang bertajuk “Bikin Film Itu Mudah” dan membeberkan rahasia mudah membuat film.

Dalam sesi gelar wicara ini, Pandu menyampaikan bahwa tidak sedikit orang yang beranggapan membuat film itu sulit karena membutuhkan modal yang besar dan peralatan yang canggih. Tanpa ragu, ia membantah hal tersebut dengan menilai bahwa itu semua perlu namun kurang penting.

Pandu yang juga seorang Program Head of Digital Film and Media Production di International Design School membagi pengalamannya saat memproduksi film pendek perdananya semasa berkuliah di Vancouver Film School, Kanada. Film itu berjudul Meet Me Halfway.

Sebagai mahasiswa rantau, ia tidak memiliki budget untuk membeli peralatan canggih dan membayar crew dan pemain. Tanpa menghiraukan keterbatasannya dan dengan modal keberanian dan tekad yang kuat, ia memanfaatkan relasi pertemanan dengan teman-teman kampusnya untuk memproduksi film tersebut.

Singkat cerita, ia akhirnya berhasil membentuk crew filmnya yang terdiri dari cameraman, video editor, dan penata musik serta mendapatkan pemeran. Ia juga mengungkap bahwa keseluruhan proses pengambilan gambar hanya menggunakan kamera SLR kelas menengah dan dengan biaya produksi kurang dari 6 juta rupiah, itu pun hasil pinjaman ibunya.

Melalui cerita tersebut, ia meyakinkan peserta bahwa hal terpenting untuk membuat film adalah mimpi. “Is making movie easy (apakah membuat film itu mudah)? Yes, if you have dreams (ya, jika kamu punya mimpi),” tuturnya di hadapan sedikitnya 750 orang pelajar SLTA se-Jabodetabek, pendidik, dan tenaga kependidikan Sekolah Madania.

Menurutnya, mimpi diibaratkan seperti bahan bakar yang menggelorakan keinginan menjadi kemampuan untuk menembus segala batas ketidakmungkinan dan hayalan. Dalam kata lain, mimpi membuat siapa saja melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Ia mengatakan “Bila kamu stuck (tidak ingin melangkah) karena merasa rintangan di hadapanmu besar, artinya your dream is not big enough (mimpimu belum cukup besar).”

Ia juga menegaskan bahwa hal penting lainnya dalam membuat film yakni relasi yang luas dan cerita menarik.

“Kalau kamu serius ingin membuat film, coba kumpul sama orang yang tertarik dengan film juga. Karena film making is an ecosystem (pembuatan film adalah sebuah ekosistem),” ungkapnya. “Kita gak mungkin buat film tanpa bantuan orang lain. Dengan mereka kamu bisa bertukar ide cerita dan siapa tau mereka juga bisa melengkapi kekurang kamu seperti saya dulu ketika membuat Meet Me Halfway. Cameraman dan video editornya teman sejurusan, penata musik dari anggota ekskul drum band, pemeran utama dari jurusan seni peran.”

Berbicara mengenai cerita dalam film, ia menjelaskan lebih jauh kenapa membuat film itu mudah yakni bahwa film pada dasarnya adalah bercerita dan semua orang bisa bercerita.

“Cerita itu unsur pembangun film yang utama. Kalau kamu sulit dapetin ide cerita, coba inget pengalaman pribadi yang paling berdampak sama kamu. Entah itu yang membuat kamu bahagia, sedih, frustrasi, atau termotivasi,” papar Pandu.

Kuncinya, cerita dalam film memiliki tiga elemen yakni dream (mimpi), obstacle (halangan atau masalah), dan solution (solusi). Sebagai contoh ia merujuk kembali kepada film perdanannya, Meet Me Halfway.

Terinspirasi dari kisah asmara hidupnya, film ini bercerita tentang dua orang kekasih yang harus menjalani hubungan jarak jauh, Jakarta-Kanada. Keinginan terbesar mereka adalah dapat bertemu dan melepas rindu, namun sayangnya mereka terpaut jarak ribuan kilometer. Sebagai solusi, akhirnya mereka memutuskan bertemu di suatu kota yang berada di tengah-tengah jarak yang memisahkan mereka.

Di akhir kegiatan, pelaku perfilman yang juga sempat menjadi Assistant Director serial TV Superman Smallville di Kanada ini mendorong para peserta yang sebagian pelajar untuk mulai membuat film mereka sendiri.

Ia mengungkap bahwa tahun 2018, Indonesia memproduksi sekitar 170 judul film dan tahun ini diprediksi dapat mencapai lebih dari 200 judul film. Dengan jumlah tersebut, para produser film kekurangan sumber daya manusia untuk memproduksi film.

“Kita sedang kekurangan orang. Kalau kalian mau bergabung ke dalam suatu film production, kalian perbanyak portofolio,” tandasnya.

Ia melanjutkan bahwa hasil film awal yang dijadikan portofolio tidak harus bagus secara teknis pengambilan gambar, editing, dan lain sebagainya. “Yang paling penting itu ceritanya bermakna dan emosinya dapet! Soal keahlian bisa diasah lagi nanti karena itu soal pengalaman, jam terbang.” ucapnya.

 

Public Relations Office

Sekolah Madania

Perum Telaga Kahuripan, Kemang

Bogor 16330, Jawa Barat, Indonesia

Telp: +62-251-8602777 ekt 107; Fax: +62-251-8604777


Share :